5 Kota Utama untuk Hunian Vertikal BUMN 2026, Rusun Tzu Chi Sebagai Contoh Terbaik

Jakarta – Dalam upaya memenuhi kebutuhan perumahan yang terus meningkat, pemerintah Indonesia, melalui Badan Pengelola BUMN dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), sedang mempercepat pembangunan hunian vertikal. Langkah ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan rumah, tetapi juga untuk memanfaatkan aset negara secara optimal. Dony Oskaria, Kepala Badan Pengelola BUMN, menegaskan pentingnya percepatan pembangunan demi mencapai target yang telah ditetapkan pemerintah. Dalam konteks ini, kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan menjadi sangat penting untuk memastikan keberhasilan proyek ini.
Kenapa Hunian Vertikal Menjadi Fokus Utama?
Hunian vertikal telah menjadi solusi yang sangat relevan dalam menghadapi keterbatasan lahan, khususnya di kota-kota besar yang padat penduduk. Dengan model pembangunan ini, lebih banyak keluarga dapat tinggal di lokasi strategis tanpa harus mengorbankan lahan hijau yang memiliki nilai ekologis tinggi. Pada tahun 2026, kebutuhan untuk hunian yang terjangkau dan layak akan semakin mendesak seiring pertumbuhan populasi yang terus meningkat. Permintaan perumahan yang tinggi mendorong pemanfaatan aset negara sebagai strategi untuk menekan biaya pengembangan, sehingga hunian dapat dijangkau oleh masyarakat luas, termasuk mereka yang berada di segmen berpenghasilan rendah.
Pemerintah juga aktif mendorong program “3 Juta Rumah” yang ditujukan untuk masyarakat Indonesia. Program ini memerlukan pendekatan yang inovatif serta sinergi antar lembaga untuk dapat tercapai. Hunian vertikal diperkirakan akan menjadi tulang punggung dalam mencapai target tersebut, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi lokal melalui pembangunan infrastruktur yang berkualitas.
Strategi BUMN untuk Mempercepat Pembangunan Hunian Vertikal
Badan Pengelola BUMN yang dipimpin oleh Dony Oskaria memegang peranan penting dalam strategi ini. Mereka bertugas untuk memetakan dan mengoptimalkan aset-aset negara agar dapat digunakan untuk lokasi pengembangan hunian vertikal yang strategis dan layak. Komitmen ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menyediakan akses perumahan bagi masyarakat. Pemanfaatan aset negara bukan hanya bertujuan untuk efisiensi biaya, tetapi juga agar pembangunan tetap sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Proyek-proyek ini diharapkan terintegrasi dengan fasilitas publik lainnya, menciptakan lingkungan yang berkelanjutan.
Kota-Kota Prioritas untuk Pembangunan
Dalam pemetaan awal, terdapat lima kota besar yang menjadi fokus utama, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar. Pemilihan kota-kota ini didasarkan pada tingkat kepadatan penduduk dan kebutuhan hunian yang tinggi. Selain itu, kelima kota ini juga merupakan pusat ekonomi regional yang sangat penting. Dony Oskaria juga menyebutkan bahwa Semarang dan beberapa kawasan penyangga Jakarta seperti Bogor, Tangerang, dan Banten sedang dalam perhatian pemetaan. Kawasan-kawasan ini diharapkan dapat mengurangi beban urbanisasi yang terjadi di Jakarta.
Proses pemetaan ini dilakukan dengan seksama dan komprehensif, dan hasilnya akan disampaikan kepada Menteri PKP, Maruarar Sirait, dalam waktu dekat. Langkah ini menunjukkan urgensi proyek dalam mewujudkan ketersediaan hunian yang layak bagi masyarakat.
Model Kolaborasi: Rusun Cinta Kasih Tzu Chi
Rusun Cinta Kasih Tzu Chi yang terletak di Cengkareng, Jakarta, menjadi contoh nyata dalam pembangunan hunian vertikal yang sukses. Dony Oskaria mengunjungi lokasi ini pada Minggu (5/4/2026) dan mengungkapkan bahwa proyek ini merupakan percontohan dari model pembangunan berbasis kolaborasi antara pemerintah dan pihak swasta, dalam hal ini Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Dengan memanfaatkan lahan seluas 5 hektare yang dimiliki oleh Perumnas, proyek ini berhasil menghasilkan 1.100 unit hunian yang terjangkau, di mana masyarakat hanya perlu membayar Rp 350 per bulan untuk tempat tinggal mereka.
Ekosistem Hunian yang Terintegrasi di Rusun Tzu Chi
Rusun Cinta Kasih Tzu Chi tidak hanya menawarkan unit tinggal, tetapi juga menciptakan ekosistem hunian yang lengkap dan terintegrasi. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup para penghuninya. Fasilitas pendidikan mulai dari taman kanak-kanak hingga SMA/SMK tersedia di lokasi ini, di samping rumah sakit, rumah ibadah, dan taman bermain yang luas. Terdapat pula tempat usaha dan pujasera yang dikelola oleh UMKM setempat, yang mendukung kemandirian ekonomi penghuni. Semua fasilitas tersebut dapat diakses oleh seluruh warga rusun, menjadikan lingkungan hunian semakin menyeluruh.
Menteri PKP, Maruarar Sirait, mengapresiasi model kolaborasi ini dan menegaskan bahwa inilah hunian yang diinginkan, terintegrasi dengan kehidupan dan perekonomian masyarakat. Proyek ini, yang dimulai pada tahun 2022, membuktikan bahwa model kolaborasi dapat berjalan dengan efektif.
Kunci Sukses dalam Pembangunan Hunian Terintegrasi
Model Rusun Cinta Kasih Tzu Chi menawarkan beberapa kunci keberhasilan dalam pembangunan hunian vertikal. Berikut adalah beberapa poin penting yang dapat diambil sebagai pelajaran:
- Integrasi Fasilitas: Pentingnya memadukan pendidikan, kesehatan, dan fasilitas sosial lainnya agar tercipta komunitas yang mandiri.
- Kolaborasi Efektif: Kemitraan antara pemerintah dan swasta mempercepat realisasi proyek, sekaligus memastikan kualitas pembangunan yang tinggi.
- Optimalisasi Aset Negara: Pemanfaatan lahan negara mengurangi biaya akuisisi, menjadikan hunian lebih terjangkau.
- Fokus pada Kesejahteraan Warga: Penyediaan fasilitas pendukung yang lengkap meningkatkan kualitas hidup dan kenyamanan penghuni.
- Keberlanjutan Proyek: Partisipasi aktif masyarakat sekitar sangat penting untuk memastikan keberlanjutan dan penerimaan sosial proyek.
Tantangan dan Aspek Keamanan dalam Pengembangan Hunian Vertikal
Pengembangan hunian vertikal berskala besar menghadapi berbagai tantangan yang perlu diatasi. Perencanaan yang matang dan menyeluruh sangat diperlukan. Aspek keamanan dan kenyamanan para penghuni harus selalu menjadi prioritas utama. Desain bangunan harus mempertimbangkan jalur evakuasi yang aman, dan fasilitas umum seperti area berkumpul dan ruang terbuka hijau sangat penting untuk mendukung interaksi sosial dan kesehatan mental penghuni. Selain itu, pembangunan harus melibatkan partisipasi aktif masyarakat sekitar agar proyek dapat berlanjut dengan baik.
Keamanan infrastruktur bangunan juga merupakan hal yang tak kalah penting. Struktur bangunan harus memenuhi standar keselamatan yang ketat, baik untuk gempa bumi maupun kebakaran. Ini bertujuan untuk menjamin keselamatan penghuni dalam jangka panjang. Selain itu, pengelolaan limbah dan sistem sanitasi yang baik harus diperhatikan, mendukung kesehatan lingkungan secara keseluruhan.
Perbandingan Model Pembangunan: Swasta vs. Kolaborasi
Di Indonesia, terdapat beberapa pendekatan dalam model pembangunan hunian. Salah satunya adalah pembangunan yang dilakukan murni oleh pihak swasta, sementara yang lainnya melalui kolaborasi antara pemerintah dan swasta. Rusun Cinta Kasih Tzu Chi menunjukkan efektivitas model kolaborasi antara pemerintah dan swasta. Pembangunan hunian yang dikelola oleh pihak swasta seringkali berorientasi pada profit, yang berdampak pada tingginya harga jual atau sewa unit. Hal ini menyulitkan masyarakat berpenghasilan rendah untuk mengaksesnya.
Di sisi lain, model kolaborasi antara BUMN dan pihak swasta (yayasan atau organisasi non-profit) memiliki keunggulan dalam menciptakan hunian yang lebih terjangkau. Ini sejalan dengan program pemerintah dalam pemerataan akses perumahan. Ketersediaan lahan negara menjadi faktor pendukung utama dalam model kolaborasi ini, serta memudahkan penyediaan fasilitas publik yang lengkap. Hal ini penting untuk menciptakan lingkungan hunian yang holistik.
➡️ Baca Juga: Kapan Pendaftaran CPNS 2026 Dibuka? Ini Info Terbaru dari Pemerintah
➡️ Baca Juga: Mengenal Honda T360, Pick-up Pertama Honda di Pasar Indonesia




