Hindia dan Dipha Barus Mengungkap Trauma Generasional dalam Single “Nafas

Jakarta – Dipha Barus dan Hindia, dua nama besar dalam industri musik Indonesia, akan segera meluncurkan single terbaru mereka yang menyoroti tema trauma generasional. Bertajuk “Nafas”, lagu ini mengeksplorasi rasa sakit yang diturunkan secara tidak sadar dari satu generasi ke generasi berikutnya. Trauma ini sering kali mempengaruhi cara seseorang berpikir, merespons, dan bertindak, menciptakan sikap defensif yang sulit dipahami. Dalam masyarakat yang cenderung menganggap bercerita tentang masalah pribadi sebagai hal tabu, banyak penyintas trauma merasa terjebak tanpa ruang untuk berbagi perasaan mereka. Dengan “Nafas”, Hindia dan Dipha Barus berupaya memberikan suara kepada mereka yang tertekan oleh ekspektasi sosial ini, menggali pengalaman sehari-hari untuk menawarkan refleksi yang relevan terhadap kehidupan banyak orang.
Menemukan Makna di Balik “Nafas”
Dalam proses kreatifnya, Dipha Barus menciptakan komposisi musik yang terinspirasi oleh pola repetitif, menggambarkan siklus kehidupan yang tak terhindarkan. Ketika Hindia mendengar demo awal lagu ini, ia merasakan kesamaan antara nada repetitif tersebut dengan aktivitas joging. “Dari situ, saya terpikir untuk menulis tentang hal-hal yang berulang, tentang rutinitas sehari-hari yang sering kali diwarnai oleh masalah yang tidak kunjung hilang,” ungkapnya. Melalui lirik yang ditulis oleh Hindia, lagu ini menyampaikan pesan kuat tanpa terkesan menggurui, merangkai pengalaman sehari-hari yang penuh tantangan.
Refleksi atas Kesulitan Hidup
Baskara, nama asli Hindia, menggambarkan “Nafas” sebagai ruang untuk memahami lebih dalam tentang pengalaman hidup yang sering kali diabaikan. Ia percaya bahwa lagu ini dapat menjadi langkah untuk memutus siklus trauma yang diturunkan dari orang tua dan generasi sebelumnya. “Perubahan hanya bisa dimulai ketika saya mengakui rasa sakit ini dan melepaskan dendam,” katanya. Dengan cara ini, Baskara berusaha untuk melihat hidupnya dari sudut pandang yang baru dan lebih positif.
Pengalaman Pribadi sebagai Inspirasi
Dipha Barus juga mengaitkan lagu ini dengan pengalaman pribadinya, yang selaras dengan tema trauma generasional. Sebagai seorang ayah, ia mulai merenungkan pola-pola yang terbentuk dalam keluarganya dan bagaimana hal ini memengaruhi cara ia mendidik anak-anaknya. “Menjadi ayah mengubah cara pandang saya terhadap warisan emosional yang saya terima dari orang tua. Saya tumbuh dalam lingkungan di mana diam dianggap sebagai cara bertahan hidup,” ungkapnya.
Pentingnya Membuka Pembicaraan
Dipha melanjutkan bahwa warisan ini bukan hanya berkaitan dengan aspek politik, tetapi juga menyangkut emosi yang mendalam. “Luka-luka personal sering kali berasal dari isu yang lebih besar dan struktural. Saya menyebutnya sebagai ‘luka kolektif yang diindividualisasi’,” terang Dipha. Melalui “Nafas”, keduanya ingin membuka dialog tentang pengalaman ini, memberi ruang bagi pendengar untuk merenungkan dan berbagi cerita mereka sendiri.
Konstruksi Musik yang Berarti
Musik “Nafas” tidak hanya berfungsi sebagai medium untuk menyampaikan pesan, tetapi juga sebagai sarana untuk mengeksplorasi emosi yang kompleks. Dipha Barus berusaha menciptakan kontras antara elemen musik yang ceria dan lirik yang mendalam. Ia terinspirasi oleh kegiatan berlari yang sering ia lakukan saat merasa terpuruk, di mana gerakan tubuh membantu memproses emosi yang terpendam. “Tubuh bergerak maju, dan dalam proses itu, saya menemukan kontemplasi,” jelasnya. Dengan cara ini, “Nafas” merefleksikan perjalanan pribadi masing-masing individu dalam menghadapi ketakutan dan tantangan hidup.
Menjaga Vokal sebagai Fokus Utama
Dalam penggarapan lagu ini, Dipha menyadari tantangan terbesar adalah menjaga agar vokal Baskara tetap menjadi pusat dari komposisi musik yang lebih megah dan dinamis. “Suara Baskara harus menjadi fokus utama, seperti tuan rumah di dalam rumah yang saya bangun,” ujarnya. Dengan pendekatan ini, Dipha ingin memastikan bahwa pesan yang ingin disampaikan tetap terjaga dan tidak hilang dalam hiruk-pikuk musik yang mengelilinginya.
Musik sebagai Sarana Ekspresi
Baskara menekankan bahwa musik memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan yang sering kali sulit untuk diungkapkan dalam percakapan sehari-hari. Dalam konteks ini, “Nafas” menjadi momen penting bagi dirinya untuk berhenti menahan diri dan mulai berbicara tentang hal-hal yang biasanya ditutup rapat. “Saya masih dalam proses ini dan memilih untuk tidak lagi diam. Dengan lagu ini, saya berharap bisa memberikan inspirasi bagi orang lain untuk berbagi cerita mereka,” ungkapnya.
Rencana Peluncuran dan Harapan Masa Depan
Single “Nafas” dijadwalkan untuk dirilis pada 24 April 2026, dan akan tersedia di seluruh platform musik digital. Dalam menghadapi peluncuran ini, baik Dipha Barus maupun Hindia berharap bahwa lagu ini dapat menyentuh hati banyak orang dan memberikan dukungan bagi mereka yang mengalami trauma generasional. “Kami ingin orang-orang merasa terhubung dengan lagu ini, menemukan kekuatan dalam berbagi dan saling mendukung,” tandas mereka.
Dengan melibatkan pendengar dalam dialog mengenai trauma generasional, “Nafas” tidak hanya menjadi sebuah lagu, tetapi juga sebuah gerakan untuk memahami dan mengatasi beban emosional yang sering kali terabaikan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui karya ini, Dipha Barus dan Hindia mengajak kita untuk merenungkan dan merayakan keberanian dalam berbagi cerita, sekaligus menghilangkan stigma seputar trauma yang kerap membelenggu banyak orang.
➡️ Baca Juga: 5 Penyebab Menopause Dini yang Penting: Genetik dan Pengaruh Gaya Hidup
➡️ Baca Juga: Rekomendasi Laptop Keyboard Backlit Nyaman Mengetik Di Tempat Gelap Untuk Penulis Artikel




