WFH Sehari Seminggu: Efisiensi Energi atau Hanya Mengalihkan Beban Kerja?

Pemerintah Indonesia saat ini sedang mempertimbangkan penerapan kebijakan kerja dari rumah (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan sektor swasta. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kebutuhan penghematan energi di tengah potensi krisis global yang diakibatkan oleh konflik geopolitik yang berkepanjangan. Konsep dasar dari kebijakan ini adalah mengurangi aktivitas di kantor dengan harapan dapat menurunkan konsumsi energi secara signifikan. Kajian yang dilakukan oleh Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) menunjukkan bahwa penerapan WFH sehari dalam seminggu dapat menghasilkan penghematan fiskal hingga Rp 9,7 triliun per tahun. Angka ini dihasilkan dari perhitungan yang memperhitungkan efisiensi konsumsi energi di gedung pemerintah, termasuk penggunaan listrik, pendingin ruangan, operasional fasilitas, serta pengurangan beban transportasi bagi ASN.
Pentingnya Efisiensi Energi dalam Kebijakan WFH
Meski demikian, penerapan WFH tidak bisa dianggap sebagai solusi tunggal yang dapat menyelesaikan semua masalah. Analis Senior ISEAI, Ronny P. Sasmita, mengungkapkan bahwa meskipun angka penghematan tersebut cukup signifikan, WFH sehari dalam seminggu tidak dapat dianggap sebagai solusi yang revolusioner. Ia menyebutkan, “Ini lebih mirip dengan penghematan kecil yang dilakukan secara rutin. Dampaknya memang ada, tetapi tidak menyelesaikan masalah struktural fiskal yang ada.” Hal ini menunjukkan bahwa meski ada potensi penghematan, tantangan yang lebih besar masih harus dihadapi.
Kritik Terhadap Kebijakan WFH
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, juga memberikan pandangannya terkait WFH. Menurutnya, penghematan energi yang dihasilkan dari kebijakan ini mungkin tidak terlalu besar. Perhitungannya menunjukkan bahwa penghematan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) di tingkat nasional bisa berkisar antara 0,5% hingga 1,5%. “Angka tersebut sangat kecil, hanya 0,5-1,5% dari total konsumsi BBM jika WFH diterapkan satu hari dalam seminggu,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bhima menyoroti bahwa WFH berpotensi memindahkan beban energi dari perkantoran ke rumah tangga. Dengan karyawan yang bekerja dari rumah, penggunaan listrik di rumah, terutama untuk perangkat elektronik dan pendingin ruangan, kemungkinan akan meningkat. Ini berarti, beban energi tidak hilang, melainkan hanya berpindah ke rumah-rumah.
- Peningkatan konsumsi listrik untuk perangkat elektronik.
- Penggunaan pendingin ruangan di rumah yang lebih tinggi.
- Kenaikan konsumsi LPG untuk memasak.
- Fluktuasi harga energi fosil yang memengaruhi biaya rumah tangga.
- Ketergantungan pada energi fosil yang rentan terhadap harga global.
Implikasi Jangka Panjang dari WFH
Ronny P. Sasmita juga sependapat bahwa WFH berpotensi memindahkan beban energi ke rumah tangga. Menurutnya, meskipun konsumsi energi di sektor pemerintah dan swasta mungkin berkurang, secara agregat nasional, konsumsi energi tetap ada. “Listrik yang digunakan di kantor mungkin turun, tetapi penggunaan listrik di rumah justru meningkat,” jelasnya. Ini menunjukkan bahwa WFH tidak mengurangi konsumsi energi secara keseluruhan, melainkan hanya mengubah lokasi penggunaannya.
Keseimbangan Energi dan Ekonomi
Dengan kebijakan WFH sehari dalam seminggu, pertanyaan muncul mengenai dampaknya terhadap distribusi ekonomi dan beban energi. Ronny menekankan pentingnya adanya penyeimbang untuk membuat kebijakan ini berkelanjutan. Misalnya, insentif untuk listrik bagi rumah tangga yang produktif atau subsidi untuk akses internet harus dipertimbangkan. Tanpa langkah-langkah penyeimbang ini, WFH berisiko menjadi sekadar efisiensi yang semu, yang pada akhirnya justru membebani pekerja.
Potensi Peningkatan Konsumsi BBM
Peneliti Senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Muhammad Ishak Razak, menambahkan bahwa skema WFH mungkin justru dapat meningkatkan konsumsi BBM. Ia mencatat bahwa pekerja yang bekerja dari rumah mungkin lebih sering pergi ke mal, kafe, atau melakukan aktivitas lain di luar rumah. Semua aktivitas ini tentu memerlukan energi dan dapat meningkatkan konsumsi BBM.
“WFH bisa menyebabkan peningkatan konsumsi BBM jika pekerja sering keluar rumah untuk bersosialisasi atau melakukan aktivitas lain,” ujarnya. Selain itu, pergeseran beban energi dari kantor ke rumah dapat mengakibatkan peningkatan konsumsi listrik yang sebagian besar masih bergantung pada pembangkit yang menggunakan BBM dan gas.
Strategi untuk Efisiensi Energi yang Berkelanjutan
Dalam konteks jangka panjang, Ishak menekankan perlunya tindakan nyata dari pemerintah untuk meningkatkan efisiensi energi di Indonesia. Ia mengusulkan beberapa langkah strategis, antara lain:
- Peningkatan investasi dalam fasilitas transportasi umum untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
- Percepatan adopsi kendaraan listrik, baik untuk kendaraan umum maupun kendaraan dinas.
- Pembangunan infrastruktur pengisian daya yang memadai untuk mendukung kendaraan listrik.
- Pengembangan sumber energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
- Program-program edukasi masyarakat mengenai efisiensi energi dalam kehidupan sehari-hari.
Pertimbangan dalam Implementasi WFH
Dengan demikian, penerapan WFH sebagai strategi penghematan energi memerlukan pertimbangan yang cermat. Pemerintah harus mempertimbangkan potensi perpindahan beban energi ke rumah tangga dan mencari solusi penyeimbang agar kebijakan ini tidak justru membebani masyarakat. Selain itu, investasi jangka panjang dalam transportasi umum, kendaraan listrik, dan energi terbarukan tetap menjadi kunci untuk mencapai efisiensi energi yang berkelanjutan.
WFH dapat menjadi bagian dari solusi yang lebih besar, tetapi tidak cukup jika diandalkan sebagai satu-satunya jawaban. Pendekatan holistik dan terintegrasi diperlukan untuk menghadapi tantangan energi di Indonesia, sehingga kebijakan ini dapat memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat dan negara.
➡️ Baca Juga: Indrak, Spesialis SEO, Analisis Kembalinya Tuan Rumah Bhayangkara Melawan Arema: Dua Kartu Merah dan Satu Penalti
➡️ Baca Juga: Antisipasi Macet, Tol Japek Selatan Siap Dilintasi Saat Arus Balik



