Festival Kor’a Inasua Dapatkan Dukungan Malteng untuk Melestarikan Budaya Pangan Lokal dan Laut

Festival Kor’a Inasua merupakan inisiatif penting yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) untuk melestarikan dan memperkuat budaya pangan lokal. Kegiatan ini diselenggarakan di Kecamatan Teon Nila Serua (TNS) dan bertujuan untuk menjaga keberlanjutan budaya serta sumber daya laut yang ada. Dalam konteks yang semakin mendesak untuk melindungi lingkungan, festival ini hadir sebagai solusi untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga tradisi dan ekosistem yang ada di sekitarnya.

Pentingnya Festival Kor’a Inasua dalam Pelestarian Budaya

Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, menegaskan bahwa penguatan budaya pangan lokal seperti inasua harus berjalan beriringan dengan upaya pelestarian sumber daya alam, khususnya ekosistem laut. Dalam pandangannya, keberlanjutan budaya dan lingkungan tidak bisa dipisahkan, terutama dalam konteks masyarakat pesisir di Maluku.

“Inasua sebagai pangan tradisional menjadi bagian integral dari identitas masyarakat pesisir di Maluku, khususnya di TNS. Kami percaya bahwa menjaga kesehatan laut sangat berkaitan dengan kelestarian lingkungan serta keberlangsungan budaya dan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Ruang Ekspresi dan Edukasi

Festival Kor’a Inasua bukan hanya sekadar acara budaya, tetapi juga berfungsi sebagai platform edukasi untuk konservasi dan penguatan ekonomi masyarakat pesisir. Melalui festival ini, para pengunjung dapat belajar mengenai pengembangan pangan tradisional inasua yang kaya akan nilai budaya.

Inasua sendiri merupakan produk kuliner khas yang berasal dari ikan fermentasi, yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia sejak tahun 2015. Ini menunjukkan betapa pentingnya inasua dalam merepresentasikan kearifan lokal dan tradisi yang telah ada sejak lama.

Proses Pembuatan Inasua dan Nilai Kearifan Lokal

Inasua dihasilkan melalui metode pengawetan ikan dengan menggunakan garam, yang telah menjadi solusi tradisional dalam pemenuhan kebutuhan pangan saat musim angin. Proses ini tidak hanya mencerminkan keterampilan masyarakat lokal, tetapi juga menekankan pentingnya menjaga ekosistem laut yang sehat sebagai sumber bahan baku.

Terutama, ikan laut dalam seperti ikan gindara (Ruvettus pretiosus) menjadi salah satu komponen penting dalam produksi inasua. Pengelolaan yang bijak terhadap hasil laut ini mencerminkan nilai-nilai keberlanjutan dan efisiensi yang perlu dilestarikan.

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pelatihan

Penguatan kapasitas masyarakat, terutama bagi kelompok perempuan, menjadi fokus utama dalam festival ini. Berbagai pelatihan diadakan untuk meningkatkan kualitas produksi inasua yang memenuhi standar higienis dan aman untuk dikonsumsi.

Program pelatihan ini meliputi:

Peran Generasi Muda dalam Konservasi

Pentingnya melibatkan generasi muda dalam festival ini tidak bisa diabaikan. Edukasi lingkungan, lomba konten media sosial, serta permainan berbasis konservasi menjadi beberapa cara untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga laut sejak dini. Dengan cara ini, harapannya adalah generasi berikutnya dapat lebih menghargai dan melestarikan sumber daya alam yang ada.

Momentum Strategis untuk Kesadaran Kolektif

Camat Teon Nila Serua, Ronald Wonmaly, menilai bahwa festival ini merupakan momentum strategis untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat. Ia menekankan pentingnya praktik pemanfaatan sumber daya laut yang bijak dan berkelanjutan.

“Kami berkomitmen untuk mendorong masyarakat agar terus menjaga praktik-praktik lokal yang bijaksana dalam memanfaatkan hasil laut. Festival ini menjadi ruang belajar bersama mengenai pentingnya laut yang sehat untuk kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Dukungan dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara

Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) turut berkontribusi dalam penyelenggaraan festival ini. Mereka memiliki program kelautan yang difokuskan pada penguatan budaya lokal, edukasi konservasi, serta pengembangan ekonomi masyarakat pesisir.

Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, menekankan bahwa praktik tradisional seperti inasua mencerminkan nilai efisiensi dan keberlanjutan yang sejalan dengan upaya konservasi. Melalui dukungan ini, diharapkan festival dapat memberikan dampak positif jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan.

Kesimpulan

Festival Kor’a Inasua tidak hanya menjadi ajang perayaan budaya, tetapi juga sarana untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian sumber daya laut dan budaya pangan lokal. Dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk generasi muda dan kelompok perempuan, festival ini diharapkan dapat menciptakan perubahan positif yang berkelanjutan.

Dengan demikian, festival ini menjadi contoh nyata bagaimana tradisi dan modernitas dapat bersinergi dalam menjaga keberlanjutan hidup masyarakat pesisir di Maluku. Melalui upaya kolektif ini, diharapkan budaya pangan lokal seperti inasua dapat terus terjaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

➡️ Baca Juga: 5 Destinasi Paling Indah di Dunia yang Wajib Dikunjungi pada Tahun 2026

➡️ Baca Juga: Saksikan Siaran Langsung Pertandingan Timnas Futsal Indonesia vs Malaysia di Piala AFF 2026 Hari Ini

Exit mobile version