Iran Sita Kapal Selam Nirawak Dive-LD AS di Selat Hormuz, Tanggapan Pentagon Terungkap

Pada tanggal 8 September, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa mereka telah menyita sebuah kapal selam nirawak yang dioperasikan oleh Amerika Serikat di pintu masuk Selat Hormuz. Kejadian ini menimbulkan kecemasan di kalangan pengamat internasional terkait dengan ketegangan yang berlangsung di wilayah tersebut.
Identifikasi Kapal Selam Nirawak
Media pemerintah Iran mengungkapkan bahwa kapal selam yang disita tersebut dikenal dengan sebutan “Dive-LD”. Ini adalah sebuah kapal selam tak berawak otonom berukuran besar, dengan panjang 5,8 meter dan berat mencapai 3 ton. Diproduksi oleh kontraktor pertahanan asal AS, Anduril, Dive-LD dirancang untuk berbagai misi militer yang kompleks.
Fungsi dan Kemampuan Dive-LD
Kapal selam nirawak ini memiliki kemampuan untuk melaksanakan berbagai misi, antara lain:
- Penanggulangan ranjau laut
- Pemetaan dasar laut
- Pengumpulan intelijen
- Pengawasan dan pengintaian (ISR)
- Inspeksi infrastruktur bawah laut, seperti kabel dan pipa
Dengan teknologi canggih di dalamnya, Dive-LD dapat beroperasi dengan efisien dalam mendukung operasi militer dan menjaga keamanan wilayah laut.
Pernyataan Angkatan Laut IRGC
Dalam sebuah pernyataan resmi, Angkatan Laut IRGC mengklaim, “Kami berhasil menangkap salah satu kapal selam nirawak paling canggih di pintu masuk Selat Hormuz melalui operasi intelijen yang terencana dengan baik.” Mereka menegaskan bahwa kapal selam tersebut dilengkapi dengan teknologi mutakhir yang memungkinkan operasional yang efektif di lingkungan yang berisiko tinggi.
Rekaman dan Bukti Penangkapan
Sebagai bagian dari pengumuman tersebut, IRGC juga merilis rekaman video dan foto dari Dive-LD yang hampir utuh saat dievakuasi dari lautan. Ini menunjukkan komitmen mereka untuk transparansi dan keinginan untuk menunjukkan keberhasilan operasi tersebut kepada publik.
Tanggapan Pentagon
Menanggapi insiden ini, juru bicara Pentagon menyatakan bahwa kapal selam nirawak tersebut mengalami kerusakan lebih dari sehari sebelum penangkapannya. Ia menjelaskan bahwa drone bawah air ini sedang melakukan survei untuk mendukung operasi yang sedang berlangsung dan menegaskan bahwa unit tersebut adalah model lama yang tidak mengumpulkan informasi sensitif serta tidak dilengkapi sistem sonar atau radar rahasia.
Detail Kerusakan dan Status Kapal Selam
Meskipun demikian, juru bicara tersebut tidak menjelaskan secara rinci mengenai penyebab kerusakan, model spesifik dari kapal selam yang dimaksud, atau statusnya setelah jatuh ke tangan Angkatan Laut Iran. Hal ini menimbulkan berbagai spekulasi mengenai implikasi lebih lanjut dari insiden tersebut.
Investasi Angkatan Laut AS dalam Teknologi Tanpa Awak
Angkatan Laut Amerika Serikat telah berinvestasi secara signifikan dalam sistem angkatan laut tanpa awak, dengan tujuan untuk memantau dan mengumpulkan intelijen di wilayah maritim yang luas dengan biaya yang lebih rendah. Dengan teknologi ini, mereka dapat melacak pergerakan kapal dan kapal selam musuh tanpa membahayakan nyawa para pelaut. Insiden ini menandai penggunaan Dive-LD dalam operasi nyata untuk pertama kalinya yang dipublikasikan.
Spesifikasi dan Kapasitas Dive-LD
Menurut informasi dari situs web Anduril, Dive-LD dirancang untuk beroperasi selama hingga 10 hari tanpa perlu kembali ke pangkalan dan dapat menyelam hingga kedalaman 6.000 meter. Setiap unit Dive-LD diketahui memiliki harga sekitar 2,5 juta dolar AS.
Sejarah dan Pengembangan Dive-LD
Dikembangkan oleh perusahaan Dive Technologies, Dive-LD merupakan aset baru yang pertama kali dioperasikan oleh Angkatan Laut AS pada bulan April tahun lalu. Sebelumnya, Angkatan Laut AS menggunakan kendaraan bawah air tanpa awak (UUV) di Selat Hormuz untuk menyingkirkan ranjau yang ditempatkan oleh Iran.
Pernyataan Anduril terkait Kehilangan Dive-LD
Anduril mengonfirmasi bahwa Dive-LD yang disita telah hilang di wilayah tersebut. Mereka menyatakan, “Ini adalah sistem otonom sekali pakai yang dirancang untuk beroperasi di lingkungan yang berisiko tinggi, di mana kemungkinan kehilangan kapal selam tersebut memang telah diperkirakan sebelumnya.”
Nilai Operasional Dive-LD
Kapal selam ini telah menunjukkan nilai yang signifikan, telah beroperasi selama ribuan jam dalam misi yang ditugaskan oleh Komando Pusat AS. Keberhasilan ini menunjukkan pentingnya teknologi dalam mendukung operasi militer yang kompleks di wilayah yang sering kali bergejolak.
Peran Dive-LD dalam Operasi Pembersihan Ranjau
Saat platform tanpa awak seperti Dive-LD mendeteksi dan merekam lokasi ranjau menggunakan sonar, kamera, dan berbagai sensor, tim Navy SEALs dan unit serupa melanjutkan dengan operasi pembersihan. Proses pembersihan ranjau ini merupakan tugas yang memakan waktu dan penuh risiko, yang semakin menantang di tengah potensi ancaman dari serangan musuh.
Secara keseluruhan, insiden penyitaan Dive-LD oleh Iran menyoroti dinamika kompleks yang terjadi di Selat Hormuz dan menegaskan perlunya perhatian lebih lanjut terhadap keamanan maritim di wilayah tersebut. Dengan semakin berkembangnya teknologi militer, tantangan baru muncul, dan pengelolaan risiko menjadi semakin krusial bagi semua pihak yang terlibat.
➡️ Baca Juga: Hasil Pertandingan Al Ittihad Vs Al Nassr: Ronaldo Tidak Cetak Gol, Al Nassr Kalah
➡️ Baca Juga: Mau Mudik Naik Motor Listrik? Mengapa Tidak, tapi Cermati Masalah Berikut




