Kiai Asep Tegaskan Muktamar Jombang Harus Fokus pada Kepentingan NU, Bukan Kepentingan Kelompok

Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), KH Asep Saifuddin Chalim memberikan peringatan tegas untuk memastikan bahwa organisasi ini tetap berada dalam kendali para ulama. Dalam konteks ini, Kiai Asep menekankan pentingnya menjaga integritas dan tujuan awal NU agar tidak tergeser oleh kepentingan individu atau kelompok tertentu.
Pentingnya Arah dan Kepemimpinan NU
Kiai Asep, yang juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Surabaya dan Ketua Umum Jaringan Komunikasi Santri Nasional (JKSN), menegaskan bahwa NU dibentuk dari tradisi pesantren. Oleh karena itu, setiap keputusan dan arah kepemimpinan harus selaras dengan kepentingan lebih besar, bukan hanya segelintir orang.
Pernyataan ini diungkapkan dalam sebuah diskusi publik yang diadakan oleh Kelompok Kerja (Pokja) wartawan Grahadi, bersama JKSN dan PMII Jawa Timur, di Surabaya. Diskusi ini bertemakan “Transformasi-Reorientasi Kepemimpinan NU Abad II” dan berlangsung pada Rabu, 12 Agustus.
Pentingnya Peran Ulama dalam Organisasi
Dalam forum yang berlangsung menjelang Muktamar ke-35 NU, yang akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Kiai Asep menekankan perlunya mengembalikan posisi ulama sebagai pengendali utama. Ia percaya bahwa meskipun transformasi dan regenerasi NU adalah keharusan untuk menghadapi tantangan zaman, hal ini tidak boleh mengabaikan akar sejarah organisasi yang berdiri di atas sumbangsih para ulama dan pesantren.
Kiai Asep menyatakan, “NU harus dikendalikan oleh ulama. Jangan sampai diatur oleh sekelompok anak muda yang berupaya mengendalikan muktamar dengan cara-cara yang tidak benar.” Pernyataan ini menjadi sorotan utama dalam diskusi, di mana Kiai Asep mengingatkan agar Muktamar ke-35 tidak menjadi arena untuk kepentingan kelompok atau pertarungan untuk menguasai struktur organisasi.
NU sebagai Rumah Besar Pesantren
Bagi Kiai Asep, setiap individu yang terlibat dalam dinamika Muktamar harus menyadari bahwa NU bukanlah kendaraan pribadi untuk kepentingan individu maupun kelompok tertentu. “NU adalah rumah besar bagi pesantren,” tegasnya. Oleh karena itu, dominasi dan otoritas ulama, terutama jajaran Syuriyah, harus tetap menjadi landasan dalam menentukan arah organisasi ke depan.
Kiai Asep juga mengajak semua pihak untuk kembali memahami sejarah berdirinya NU. Organisasi ini lahir dari perjuangan para ulama dan pesantren, dengan tokoh-tokoh penting seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah. Mereka adalah pilar utama dalam proses pendirian NU, sehingga sangat penting untuk menjaga nilai-nilai yang mereka perjuangkan.
Pentingnya Kepemimpinan yang Berbasis Nilai
Lebih jauh, Kiai Asep menekankan bahwa persoalan kepemimpinan NU tidak seharusnya dilihat hanya dari sisi pergantian jabatan. Yang lebih krusial adalah memastikan bahwa kepemimpinan yang ada tetap berjalan sesuai dengan nilai dan tujuan awal organisasi. “NU memasuki abad kedua dengan tantangan yang berbeda dibandingkan masa awalnya,” ujarnya.
Di masa lalu, perjuangan NU berkaitan erat dengan upaya merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Namun, saat ini tantangannya adalah memastikan bahwa masyarakat benar-benar menikmati hasil dari kemerdekaan tersebut. Di sinilah transformasi NU sangat diperlukan, tetapi harus tetap berpegang pada dua fondasi besar: perjuangan kebangsaan dan penguatan Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang inklusif serta menjunjung tinggi persatuan.
Transformasi NU Menuju Abad Kedua
Transformasi yang diperlukan, menurut Kiai Asep, tidak boleh mengubah esensi dan tujuan NU. Organisasi ini harus tetap berfokus pada kepentingan bersama, bukan kepentingan kelompok tertentu. Dengan demikian, NU dapat terus berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa.
Lebih lanjut, Kiai Asep menghimbau agar setiap anggota NU mengambil bagian aktif dalam proses ini. “Mari kita semua berkontribusi dalam menjaga NU agar tetap relevan dan bermanfaat bagi umat,” ajaknya. Ia mengingatkan bahwa peran aktif para santri dan generasi muda sangat penting dalam mewujudkan visi dan misi NU yang lebih besar.
Menjaga Tradisi dan Inovasi dalam NU
Dalam menghadapi tantangan globalisasi dan modernisasi, NU perlu menjaga tradisi yang telah ada sekaligus berinovasi agar tetap relevan. “Kita tidak bisa menolak perubahan, tetapi kita harus bisa mengelola perubahan tersebut agar tidak menodai nilai-nilai yang telah ada,” jelas Kiai Asep.
- Penguatan peran ulama dalam pengambilan keputusan.
- Regenerasi kepemimpinan yang tetap berlandaskan nilai-nilai NU.
- Pentingnya sejarah dalam menentukan arah organisasi.
- Transformasi yang inklusif dan adaptif terhadap perubahan zaman.
- Peran aktif santri dan generasi muda dalam menjaga nilai-nilai NU.
Kiai Asep menekankan bahwa muktamar yang akan datang harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen terhadap tujuan awal NU. Dengan demikian, NU dapat menjalankan peran pentingnya dalam membangun masyarakat yang lebih baik dan berkeadilan.
Kesimpulan: Menguatkan NU untuk Masa Depan
Dalam menghadapi Muktamar ke-35, tantangan yang dihadapi NU adalah bagaimana menjaga agar organisasi ini tetap pada jalur yang benar sesuai dengan nilai-nilai yang telah dibangun oleh para pendirinya. Kiai Asep mengajak kita semua untuk bersatu dalam memperkuat NU, agar organisasi ini tetap menjadi rumah besar bagi semua pihak dan tetap relevan di tengah perubahan zaman.
➡️ Baca Juga: LG Luncurkan TV LG QNED evo AI dengan Teknologi Tercanggih dan Kualitas Gambar Superior
➡️ Baca Juga: Madagaskar Umumkan Darurat Energi Akibat Meluasnya Dampak Konflik Timur Tengah



