Jakarta – Hasil terbaru dari Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 membawa kabar baik bagi sistem pendidikan di Indonesia. Dalam penilaian ini, skor literasi membaca dan kemampuan sains siswa Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan hasil sebelumnya di PISA 2022. Menurut laporan dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), skor literasi membaca Indonesia pada PISA 2025 mencapai 365 poin, meningkat enam poin dari 359 pada PISA 2022. Selanjutnya, kemampuan sains juga mengalami kenaikan, dengan skor meningkat dari 383 menjadi 389 poin. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Rahmawati, yang menyatakan bahwa peningkatan ini menandakan kemajuan dalam kemampuan siswa di tanah air.
Peningkatan Skor Literasi Membaca dan Sains
Peningkatan skor literasi membaca dan sains menjadi sorotan utama dalam laporan PISA 2025. Rahmawati menjelaskan bahwa tren positif ini menjadi catatan penting dalam menilai perkembangan pendidikan di Indonesia. “Ada kenaikan yang cukup signifikan, dan kita juga melihat banyak negara lain mengalami penurunan,” tambahnya dalam sebuah konferensi pers di Jakarta.
Kenaikan ini tidak hanya menunjukkan kemajuan, tetapi juga memberikan harapan bahwa kebijakan pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah mulai menunjukkan hasil. Dalam konteks ini, penting untuk memahami beberapa faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan tersebut:
- Program peningkatan kualitas pendidikan yang lebih terfokus.
- Peningkatan kompetensi tenaga pengajar melalui pelatihan yang relevan.
- Penerapan metode pembelajaran yang lebih efektif dan menarik.
- Penggunaan teknologi dalam proses belajar mengajar.
- Partisipasi orang tua dan masyarakat dalam pendidikan anak.
Fokus pada Penguatan Kemampuan Siswa
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Toni Toharudin, menambahkan bahwa pemerintah akan terus memperkuat berbagai aspek kemampuan siswa. Ia menekankan pentingnya meningkatkan kemampuan bernalar dan memecahkan masalah, yang masih menjadi tantangan bagi banyak siswa di Indonesia. “Kita akan fokus pada penguatan kompetensi guru dan memberikan pendampingan kepada satuan pendidikan yang membutuhkan bantuan untuk meningkatkan capaian mereka,” ungkap Toni.
Penurunan Skor Matematika yang Mengkhawatirkan
Sementara itu, tidak semua kabar dari PISA 2025 menunjukkan hal positif. Skor Indonesia dalam bidang matematika justru mengalami penurunan. Setelah mencatatkan skor 379 pada PISA 2018, skor ini turun menjadi 366 pada PISA 2022, dan kembali menurun dua poin menjadi 364 pada PISA 2025. Rahmawati mengkonfirmasi bahwa penurunan ini adalah fakta yang perlu diperhatikan. “Kami mencatat penurunan dua poin dalam kemampuan matematika,” ujarnya.
Penurunan ini menunjukkan adanya tantangan yang harus dihadapi dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan matematika di Indonesia. Hal ini juga mengindikasikan bahwa meskipun ada kemajuan di bidang literasi membaca dan sains, pendidikan matematika perlu mendapatkan perhatian lebih serius. Beberapa alasan yang mungkin menjadi penyebab penurunan tersebut antara lain:
- Keterbatasan metode pengajaran yang efektif untuk matematika.
- Kurangnya akses terhadap materi dan sumber belajar yang berkualitas.
- Minimnya pelatihan bagi guru dalam pengajaran matematika.
- Kurangnya motivasi siswa untuk belajar matematika.
- Persepsi negatif terhadap matematika di kalangan siswa.
Perbandingan Skor dan Peringkat di PISA 2025
Dari hasil PISA 2025, terlihat jelas adanya perbedaan antara peningkatan skor literasi membaca dan sains dengan penurunan skor matematika. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut adalah data perbandingan skor dan peringkat Indonesia dalam ketiga bidang tersebut:
- Literasi Membaca: Skor PISA 2022: 359, Skor PISA 2025: 365, Peringkat 2022: 71, Peringkat 2025: 74.
- Matematika: Skor PISA 2022: 366, Skor PISA 2025: 364, Peringkat 2022: 70, Peringkat 2025: 78.
- Sains: Skor PISA 2022: 383, Skor PISA 2025: 389, Peringkat 2022: 67, Peringkat 2025: 78.
PISA 2022 diikuti oleh 81 negara, sedangkan PISA 2025 melibatkan 90 negara, menunjukkan peningkatan partisipasi internasional dalam penilaian ini. Sampel siswa yang diambil oleh OECD secara acak mewakili populasi siswa berusia 15 tahun di masing-masing negara, sehingga hasil ini dapat dijadikan indikator yang akurat untuk menganalisis kualitas pendidikan di berbagai negara.
Implikasi bagi Kebijakan Pendidikan di Indonesia
Hasil PISA 2025 memberikan gambaran yang jelas tentang tantangan yang dihadapi sistem pendidikan di Indonesia. Dengan adanya peningkatan dalam literasi membaca dan sains, pemerintah memiliki kesempatan untuk membangun momentum positif dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Namun, penurunan skor matematika menjadi sinyal bahwa perlu ada langkah-langkah strategis untuk mengatasi masalah ini.
Pemerintah diharapkan dapat merumuskan kebijakan yang lebih terarah untuk meningkatkan pendidikan matematika, termasuk:
- Meningkatkan kurikulum matematika yang relevan dan aplikatif.
- Memberdayakan guru dengan pelatihan intensif dalam pengajaran matematika.
- Menjalin kerjasama dengan institusi pendidikan tinggi untuk penelitian dan pengembangan kurikulum.
- Mendorong inovasi dalam metode pembelajaran matematika yang menarik.
- Melibatkan orang tua dalam mendukung pembelajaran matematika di rumah.
Membangun Masa Depan yang Lebih Baik Melalui Pendidikan
Dalam konteks ini, penting bagi semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, sekolah, guru, dan masyarakat, untuk bekerja sama dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang akan menentukan masa depan generasi muda. Dengan komitmen dan kolaborasi yang kuat, kita dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik, di mana siswa tidak hanya unggul dalam literasi membaca dan sains, tetapi juga mampu menghadapi tantangan matematika dengan percaya diri.
Hasil PISA 2025 seharusnya menjadi pemicu semangat untuk terus memperbaiki dan mengembangkan sistem pendidikan di Indonesia. Dengan memanfaatkan data dan analisis dari hasil ini, kita bisa merumuskan strategi yang lebih efektif dan tepat sasaran untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga siap menghadapi masa depan yang penuh tantangan.
➡️ Baca Juga: Poco F9 Pro dan F9 Ultra Resmi Diluncurkan, Simak Perbedaan Spesifikasi dan Harganya
➡️ Baca Juga: Direktur Pegadaian Dewiyanti Terpilih Sebagai Ketua Umum IBMA Secara Resmi
