Rupiah Anjlok: Dampak Penutupan Selat Hormuz oleh Iran Persisten

Pada hari Jumat pagi yang lalu, rupiah menunjukkan penurunan sebesar 65 poin atau 0,38 persen dan berada di angka Rp16.958 per dollar AS. Penurunan ini tampak lebih tajam jika dibandingkan dengan nilai tukar sebelumnya yang tercatat sebesar Rp16.893 per dollar AS.

Dampak Keputusan Iran Menutup Selat Hormuz

Menurut analisis yang dilakukan oleh Ibrahim Assuaibi, seorang pakar pasar uang, penyebab melemahnya nilai tukar rupiah ini adalah kebijakan baru dari pemimpin Iran, Ayatullah Mojtaba Khamenei, yang memutuskan untuk menutup Selat Hormuz. Selat ini memiliki peran penting dalam distribusi pasokan minyak dan gas dunia, dengan volume mencapai seperlima dari total pasokan.

Penutupan Selat Hormuz ini telah berdampak signifikan pada pasar minyak global, dengan gangguan pasokan yang terjadi merupakan yang terbesar sepanjang sejarah. Dampak lainnya yang dirasakan adalah lonjakan harga minyak yang cukup besar dan ini tentu saja berpengaruh pada ekonomi global, terutama terkait dengan inflasi.

Potensi Dampak Pada Ekonomi Global

Patokan harga minyak Brent berjangka global saat ini berada di angka sekitar 100 dollar AS per barel. Akibat lonjakan harga ini, banyak analis dan pelaku pasar yang khawatir akan terjadinya guncangan inflasi. Bank sentral seperti Federal Reserve pun patut mempertimbangkan kembali rencana pemotongan suku bunga jangka pendek jika inflasi terus meningkat.

Biaya pinjaman yang tinggi dapat menjadi daya tarik bagi investasi asing, yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai tukar dolar. Hal ini tentu saja akan berdampak pada nilai tukar mata uang lainnya, termasuk rupiah.

Beberapa Faktor Lain yang Mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah

Di sisi domestik, pasar menyoroti beban pembayaran bunga utang yang membatasi ruang gerak pemerintah dalam mendorong ekonomi melalui pengeluaran negara. Berdasarkan estimasi defisit anggaran dikurangi keseimbangan primer, realisasi pembayaran bunga utang telah mencapai angka Rp99,8 triliun pada bulan Februari 2026.

Angka ini setara dengan 27,8 persen dari total pendapatan negara sebesar Rp358 triliun, atau 28,8 persen jika dibandingkan dengan realisasi pengeluaran pemerintah pusat sebesar Rp346,1 triliun pada bulan lalu. Risiko ini semakin besar mengingat kebijakan tukar guling utang (debt switch) antara Bank Indonesia dengan pemerintah, serta ketegangan geopolitik global yang berpotensi meningkatkan yield surat berharga negara (SBN).

Data Tingkat Yield Surat Berharga Negara

Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Keuangan per 10 Maret 2026, tingkat yield SBN tenor 10 tahun berada di level 6,52 persen. Sementara itu, yield US Treasury tenor 10 tahun berada di posisi 4,09 persen. Sejak awal tahun, yield SBN telah mengalami kenaikan sebesar 55 basis points (bps). Dengan kenaikan ini, beban pembayaran bunga utang dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) berisiko meningkat.

Optimisme Pemerintah dalam Mengelola Utang

Walaupun demikian, pemerintah tetap optimis dalam mengelola utang. Dengan sangat hati-hati, baik dalam sisi portofolio maupun dalam penerbitan tahunan (annual issuance), pemerintah berusaha memastikan risiko tetap terjaga. Hal ini termasuk dalam pengelolaan rasio pembayaran bunga utang (interest ratio) dan Debt Service Ratio (DSR).

Salah satu contoh konkret adalah pertumbuhan penerimaan pajak yang mencapai 30,4 persen pada Februari 2026. Pertumbuhan ini akan berdampak langsung pada perbaikan rasio pembayaran bunga utang dan Debt Service Ratio (DSR).

Nilai Tukar Rupiah di Pasar Spot

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan penurunan. Nilai tukar rupiah di pasar spot ini berada di level Rp16.934 per dollar AS, lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai tukar sebelumnya yang mencapai Rp16.899 per dollar AS.

➡️ Baca Juga: Ungkap Jejak Sejarah Masjid Kramat Nurul Hidayah di Suket Duwur Melalui Video Dokumentasi

➡️ Baca Juga: Eksplosi Kasus Campak: Spesialis IPB Ungkap Penurunan Herd Immunity Indonesia, Ini Faktanya!

Exit mobile version