kpkgg
Pendidikan

Strategi Efektif Menghadapi Krisis Ekonomi Menurut Frans Seda

Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, termasuk ketegangan geopolitik yang meningkat dan ancaman resesi, Indonesia memerlukan arahan kebijakan ekonomi yang jelas dan pasti. Menariknya, solusi untuk menghadapi ketidakpastian ini dapat ditemukan dalam pemikiran seorang teknokrat legendaris, Frans Seda (1926–2009). Dalam Memorial Lecture Edisi Khusus 100 Tahun Frans Seda yang berjudul “Kebijakan Ekonomi di Masa Sulit: Pelajaran dari Krisis, Geopolitik, dan Tekanan Struktural”, ide-ide beliau kembali dihidupkan. Acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Frans Seda bersama Atma Jaya Institute of Public Policy (AJIPP) ini berlangsung dengan semarak di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, pada 6 Oktober 2026.

Pelajaran Berharga dari Sejarah Ekonomi

Pembukaan acara oleh Ketua Yayasan Frans Seda, Steve Ginting, mencerminkan betapa pentingnya warisan Frans Seda bagi bangsa Indonesia saat ini. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, kita memerlukan teladan pemimpin yang berintegritas. “Seratus tahun Frans Seda adalah momen refleksi bagi bangsa, mengingatkan kita akan pentingnya integritas dan keberanian dalam mengambil keputusan sulit,” ungkap Steve. Rangkaian pelajaran dari perjalanan ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Frans Seda sangat relevan untuk diterapkan pada masa kini, khususnya dalam menghadapi krisis ekonomi.

Disiplin Fiskal dan Keberanian Memimpin

Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Mari Elka Pangestu, menekankan pentingnya keberanian dalam kebijakan fiskal, mengingat kembali langkah-langkah yang diambil Frans Seda untuk mengatasi utang yang menumpuk dan inflasi yang melambung tinggi pada tahun 1966. “Defisit mencapai 128 persen dari penerimaan, dan inflasi mencapai angka yang sangat tinggi. Dari pengalaman itu, ada tiga pelajaran penting yang bisa diterapkan saat ini,” katanya. Pelajaran utama yang diambil adalah:

  • Keberanian mengambil keputusan: Seperti yang dilakukan Frans Seda dengan membuka kembali investasi asing di tengah nasionalisme yang kuat.
  • Disiplin fiskal: Ini bukan hanya soal penghematan, melainkan tentang alokasi sumber daya yang bijaksana untuk masa depan.
  • Integritas: Tidak ada negosiasi dalam hal ini, terutama di saat tertekan.

Mari Elka menegaskan bahwa dalam kondisi global yang tidak menentu, menjaga ruang fiskal sangat penting agar Indonesia dapat menentukan arah dan masa depannya secara mandiri.

Strategi Menghadapi Krisis Ekonomi

Menteri Keuangan Suahasil Nazara juga menyoroti keberanian Frans Seda dalam mengimplementasikan UU Penanaman Modal Asing pada tahun 1967. Langkah tersebut menjadi fondasi bagi kebijakan yang terukur dan menunjukkan kepemimpinan yang kredibel. “Frans Seda bukan hanya ekonom, tetapi juga pendidik yang memimpin Indonesia melalui masa-masa sulit. Dengan hiperinflasi yang mencapai lebih dari 650 persen dan cadangan devisa yang menipis, beliau berhasil menstabilkan perekonomian melalui kebijakan anggaran yang ketat dan penataan utang,” jelas Suahasil.

Melalui disiplin anggaran dan kebijakan stabilisasi, Frans Seda mampu menurunkan inflasi dari 650 persen pada 1966 menjadi 110 persen di 1967, dan 85 persen pada 1968. “Keberanian untuk bertindak harus selalu disertai dengan tanggung jawab fiskal dan upaya menjaga kredibilitas,” tambahnya. Kebijakan ekonomi mungkin bervariasi sesuai dengan tantangan zaman, tetapi kepercayaan dan kredibilitas tetap menjadi fondasi utama yang tidak boleh diabaikan.

Kedaulatan Ekonomi di Era Geopolitik

Dalam konteks persaingan antara blok-blok besar, seperti AS dan Tiongkok, penting bagi Indonesia untuk mempelajari fleksibilitas diplomasi yang diterapkan oleh Frans Seda. Ekonom politik Dinna Prapto Raharja menekankan bahwa kedaulatan dalam kebijakan berarti Indonesia memiliki kebebasan dan kepercayaan untuk menentukan arah yang sesuai dengan kepentingan nasionalnya. Ketidakpastian saat ini bukan lagi sesuatu yang sporadis, melainkan bagian dari realitas yang harus dihadapi dengan bijak.

Dinna juga menyoroti bahwa perubahan harus dibaca secara strategis agar kebijakan ekonomi, diplomasi, dan pembangunan tidak hanya bersifat reaktif. Dengan proyeksi krisis air yang meningkat di beberapa wilayah Indonesia, pemahaman yang mendalam tentang dinamika ini sangat penting dalam merumuskan kebijakan yang efektif.

Menghadapi Peluang di Tengah Krisis

Di sisi lain, mantan Rektor Unika Atma Jaya, A. Prasetyantoko, menilai bahwa krisis dapat menjadi momentum untuk reformasi, asalkan ditangani dengan prinsip keadilan sosial dan tanpa praktik politik yang transaksional. “Krisis memberikan tekanan, namun juga membuka peluang untuk melakukan perubahan yang signifikan. Tantangannya adalah memastikan bahwa teknokrasi tetap berintegritas dan mampu meletakkan kebijakan ekonomi dalam konteks kepentingan publik dan keadilan sosial,” jelasnya.

Prasetyantoko menegaskan bahwa dibutuhkan keberanian untuk melakukan perubahan, serta kemampuan untuk memastikan setiap keputusan didasarkan pada nilai-nilai, pengetahuan, dan kepentingan jangka panjang.

Menjaga Warisan Kebijakan yang Berkelanjutan

Direktur AJIPP, Salvatore Simarmata, menekankan pentingnya melanjutkan warisan Frans Seda agar tetap relevan dan berdampak bagi masyarakat. “Frans Seda mengajarkan kita bahwa kebijakan yang baik lahir dari kombinasi penguasaan teknis, keberanian mengambil risiko untuk kepentingan jangka panjang, dan kesediaan untuk menjelaskan pilihan sulit kepada publik secara transparan,” ujarnya. Ketiga elemen ini sangat diperlukan dalam konteks kebijakan publik saat ini.

Melalui forum-forum seperti ini, AJIPP berkomitmen untuk memastikan bahwa warisan Frans Seda tidak sekadar menjadi kenangan, tetapi menjadi rujukan nyata bagi para pembuat kebijakan di masa sekarang dan mendatang.

➡️ Baca Juga: Lahan 2.000 Meter Persegi di Gunung Cigayung KBB Terbakar oleh Api

➡️ Baca Juga: Pemprov dan Kakanwil Kemenkum Lampung Tingkatkan Sinergi dalam Layanan Hukum dan Pengembangan Kekayaan Intelektual

Related Articles

Back to top button