Distribusi 40 Ribu Liter Air Bersih ke Wilayah Terdampak Kekeringan di Parimo

Kekeringan yang melanda beberapa wilayah di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, menjadi perhatian serius di tengah fenomena El Nino yang berkelanjutan. Dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan distribusi air bersih secara masif. Dengan total pasokan mencapai 40 ribu liter, inisiatif ini diharapkan dapat membantu meringankan beban warga yang mengalami krisis air bersih.
Penyaluran Air Bersih di Wilayah Terdampak
Menurut informasi yang disampaikan oleh Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPBD Parigi Moutong, Moh Rivai, lima desa di dua kecamatan yang berbeda telah mengalami dampak serius akibat kekeringan. Dalam upaya untuk mengatasi situasi ini, pihak BPBD mengalokasikan sekitar 40 ribu liter air bersih yang akan disalurkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.
Distribusi air bersih ini terdiri dari beberapa bagian. Sebanyak 8 ribu liter air akan dialokasikan untuk Desa Kayu Agung yang terletak di Kecamatan Mepanga. Di area ini, sekitar 12 hektare lahan kebun warga mengalami dampak signifikan akibat kemarau berkepanjangan.
Desa Terdampak dan Luas Kebun yang Terpengaruh
Sementara itu, 32 ribu liter air bersih lainnya akan disuplai untuk beberapa desa di Kecamatan Bolano, yaitu Desa Tirta Nagaya, Gunung Sari, Santigi, dan Bolano Barat. Di desa-desa ini, luas kebun yang terdampak mencapai sekitar 44,8 hektare. Upaya distribusi ini diharapkan dapat memberikan dukungan yang berarti bagi petani dan masyarakat yang terdampak.
- Desa Kayu Agung: 8.000 liter
- Desa Tirta Nagaya: bagian dari 32.000 liter
- Desa Gunung Sari: bagian dari 32.000 liter
- Desa Santigi: bagian dari 32.000 liter
- Desa Bolano Barat: bagian dari 32.000 liter
Proses penyaluran air bersih ini dikelola oleh posko Satuan Tugas (Satgas) yang dibentuk untuk siaga darurat terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan di Kecamatan Bolano dan Mepanga. Tim di lapangan melakukan distribusi secara terencana dan efisien agar air yang disuplai dapat sampai ke tangan masyarakat yang membutuhkan.
Situasi Kekeringan yang Berkelanjutan
Kondisi kekeringan di Kabupaten Parigi Moutong diperkirakan akan terus berlanjut hingga bulan Oktober 2026. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak yang lebih luas terhadap pertanian dan keberlangsungan hidup masyarakat. Oleh karena itu, tim satgas siaga darurat terus melakukan pemantauan dan penanggulangan untuk mengurangi dampak negatif dari fenomena ini.
Tim yang terlibat dalam upaya penanggulangan ini terdiri dari berbagai instansi dan relawan, termasuk personel dari BPBD, Satpol PP, relawan PMI, serta petugas dari Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) yang berada di bawah Direktorat Jendral Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum. Kerja sama ini diharapkan dapat mempercepat penanganan masalah kekeringan yang melanda.
Penanganan Karhutla dan Dampaknya
Selain fokus pada penanganan kekeringan, tim juga aktif dalam menangani kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Desa Patunasugi, Kecamatan Bolano Lambunu. Area yang terbakar mencapai sekitar 3 hektare, menyebabkan kerugian bagi para petani yang lahan kebunnya ikut terbakar. Penanganan ini melibatkan berbagai pihak, termasuk TNI/Polri, aparat desa, dan masyarakat setempat.
- TNI/Polri: dukungan dalam penanganan karhutla
- Aparat desa: berperan dalam koordinasi di lapangan
- Masyarakat setempat: ikut serta dalam pemadaman api
- Tim pemadam kebakaran: menggunakan mobil pemadam dari TNI
- Relawan: membantu dalam penanganan bencana
Perjuangan tim dalam memadamkan api menunjukkan semangat kolaborasi di antara berbagai elemen masyarakat. Hingga pukul 21.00 WITA, upaya pemadaman berhasil dilakukan, dan satu unit mobil pemadam kebakaran milik TNI dikerahkan untuk menghentikan penyebaran api. Keberhasilan ini adalah contoh nyata dari kerja sama yang efektif dalam menghadapi tantangan bencana.
Kesimpulan dan Harapan untuk Masa Depan
Upaya distribusi air bersih di Kabupaten Parigi Moutong merupakan langkah penting dalam menghadapi tantangan kekeringan yang semakin kompleks. Dengan dukungan dari berbagai pihak dan kesadaran masyarakat, diharapkan krisis ini dapat dikelola dengan lebih baik. Ketersediaan air bersih adalah hak dasar setiap individu, dan melalui kolaborasi yang erat, kita dapat menjaga keberlangsungan hidup dan kesejahteraan masyarakat yang terdampak.
➡️ Baca Juga: WINR Luncurkan 15 Proyek Properti Baru di Jabodetabek dan Jawa untuk Pertumbuhan Investasi
➡️ Baca Juga: Kode Redeem EA Sports FC Mobile 6 Oktober 2026 untuk Klaim Token Rankup Gratis




