Gubernur BI: Likuiditas Perbankan Tersedia, Namun Distribusinya Tidak Merata

Dalam dunia perbankan yang terus berkembang, likuiditas menjadi salah satu aspek penting yang memengaruhi stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa meskipun likuiditas perbankan secara keseluruhan masih tersedia, distribusinya tidak merata di seluruh sektor. Hal ini terlihat dari variasi rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) yang berbeda di antara bank-bank. Mengapa hal ini menjadi perhatian? Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi berbagai aspek likuiditas perbankan dan implikasinya terhadap perekonomian nasional.
Keadaan Likuiditas Perbankan di Indonesia
Destry Damayanti menjelaskan bahwa likuiditas perbankan memang ada, namun tantangan terletak pada pemerataan distribusinya. “Likuiditas itu sebenarnya ada. Tapi tinggal sekarang kalau kita bicara likuiditas, penyebarannya merata atau tidak,” ujarnya dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta. Kondisi ini menunjukkan pentingnya memahami bagaimana likuiditas tersebut dapat dijangkau oleh semua sektor, terutama UMKM yang sering kali membutuhkan akses lebih besar.
Salah satu indikator yang menggarisbawahi kondisi likuiditas perbankan adalah rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK). Rasio ini masih berada pada angka yang sehat, yaitu antara 23-24 persen untuk seluruh industri. Ini menunjukkan bahwa bank-bank masih memiliki cukup likuiditas untuk memenuhi kebutuhan nasabah jika dikelola dengan baik.
Indikator Lain dari Likuiditas Perbankan
Bukan hanya AL/DPK yang menjadi patokan, tetapi juga suku bunga di pasar uang antarbank, yang dikenal dengan IndONIA. Destry menyatakan bahwa suku bunga ini sempat mencapai level tertinggi di 6,5 persen, lalu menurun menjadi 5,9 persen, dan saat ini berada di kisaran 6 persen. Meskipun fluktuasi ini menunjukkan adanya dinamika dalam likuiditas, level tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan puncak sebelumnya.
- AL/DPK berada pada kisaran 23-24 persen.
- IndONIA mencapai level tertinggi 6,5 persen sebelum turun.
- Suku bunga saat ini berada di sekitar 6 persen.
- Likuiditas perbankan menunjukkan kondisi yang stabil.
- Penting untuk memantau perkembangan dari setiap bank secara individual.
Pembagian Likuiditas Antara Bank
Untuk mengevaluasi apakah likuiditas perbankan terdistribusi dengan baik, Bank Indonesia melakukan pemantauan yang mendalam terhadap kondisi likuiditas masing-masing bank. Salah satu indikator kunci yang diperhatikan adalah LDR. Destry menjelaskan bahwa beberapa bank, khususnya yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), menunjukkan LDR yang cukup tinggi akibat pertumbuhan kredit yang signifikan.
“Kalau kita lihat, LDR bank-bank itu tidak merata. Jadi artinya di sini kita lihat likuiditas yang ada di industri itu segmented, jadi tidak terdistribusi secara merata,” ungkapnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun likuiditas tersedia, akses terhadapnya tidak sama bagi semua bank, yang dapat menciptakan ketidakseimbangan dalam sektor perbankan.
Perbandingan Pertumbuhan Kredit dan DPK
Lebih lanjut, Destry menyoroti pertumbuhan kredit yang mencapai 13,6 persen pada Juli 2026, sementara dana pihak ketiga (DPK) hanya tumbuh sebesar 11,21 persen. Ini menunjukkan adanya celah antara pertumbuhan kredit dan DPK, di mana sebelumnya DPK selalu tumbuh lebih tinggi dari kredit. “Kalau sebelumnya di periode sebelumnya, DPK itu selalu tumbuh di atas kredit. Tapi belakangan kredit itu sudah tumbuh melebihi DPK,” paparnya.
Fenomena ini menjadi sorotan penting karena dapat mempengaruhi stabilitas sistem keuangan. Jika pertumbuhan kredit lebih cepat daripada DPK, bank-bank perlu lebih berhati-hati dalam pengelolaan likuiditas mereka agar tidak mengalami masalah di kemudian hari.
Pemantauan Bank Secara Granular
Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memantau bank-bank dengan pertumbuhan kredit yang pesat, terutama yang mengalami penurunan DPK. Pemantauan ini dilakukan secara lebih granular untuk memahami kondisi likuiditas di masing-masing bank. “Jadi kami di Bank Indonesia sekarang analisa itu benar-benar kita lihat secara granular, kita lihat bank-bank mana yang memang likuiditasnya tight dan mana yang overliquid,” jelas Destry.
Dengan pendekatan ini, Bank Indonesia berharap dapat memberikan intervensi yang tepat jika diperlukan, guna menjaga kesehatan sistem perbankan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Pendorong Pertumbuhan Kredit
Destry juga mencatat bahwa banyak dari pertumbuhan kredit ini didorong oleh kebijakan state-led growth, meskipun kontribusi dari sektor swasta mulai menunjukkan peningkatan. Khususnya, sektor swasta non-intermediasi keuangan non-bank (IKNB) mulai berperan lebih aktif dalam perekonomian, yang menunjukkan adanya diversifikasi dalam sumber pertumbuhan kredit.
“Intermediasi dan likuiditas merupakan dua hal yang saling terkait,” katanya, menegaskan pentingnya hubungan antara kemampuan bank untuk memberikan pinjaman dan ketersediaan likuiditas. Keseimbangan ini sangat krusial untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berkelanjutan.
Strategi untuk Meningkatkan Distribusi Likuiditas
Meningkatkan distribusi likuiditas perbankan menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh otoritas moneter. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah meningkatkan akses bagi bank-bank kecil dan menengah untuk mendapatkan likuiditas dari pasar. Ini bisa dilakukan melalui program-program yang mendukung pembiayaan bagi sektor-sektor yang selama ini kurang terlayani oleh bank.
Selain itu, edukasi kepada bank-bank mengenai pengelolaan likuiditas yang baik juga perlu dilakukan. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai manajemen likuiditas, bank-bank dapat lebih efektif dalam menghadapi fluktuasi yang terjadi di pasar.
- Program pembiayaan untuk bank kecil dan menengah.
- Edukasi tentang manajemen likuiditas bagi bank.
- Koordinasi yang erat antara BI dan Kementerian Keuangan.
- Pemantauan berkelanjutan terhadap kondisi likuiditas bank.
- Intervensi yang tepat jika dibutuhkan untuk menjaga stabilitas.
Pentingnya Kerjasama Antara Sektor
Kerjasama yang erat antara Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan lembaga keuangan lainnya sangat penting untuk menciptakan ekosistem perbankan yang seimbang. Dengan adanya koordinasi, diharapkan likuiditas perbankan dapat terdistribusi lebih merata dan setiap sektor ekonomi mendapatkan akses yang memadai untuk tumbuh.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, menjaga likuiditas yang sehat dan distribusi yang merata merupakan langkah krusial untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Melalui pemantauan yang ketat dan strategi yang tepat, diharapkan Bank Indonesia dapat mengoptimalkan peran likuiditas dalam mendukung perekonomian nasional.
➡️ Baca Juga: Manfaat Berjemur di Sinar Matahari Pagi untuk Meningkatkan Asupan Vitamin D Alami
➡️ Baca Juga: Catat! Ini Jadwal Layanan BCA Selama Libur Nyepi dan Lebaran 2026




