Indonesia Siap Maju Sebagai Anggota Dewan ICAO untuk Periode 2026–2028

Indonesia sedang dalam proses pencalonan sebagai anggota Dewan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) untuk periode 2026 hingga 2028. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen Indonesia untuk memberikan kontribusi yang lebih signifikan dalam pengembangan sektor penerbangan sipil di tingkat global. Dengan latar belakang sebagai negara kepulauan yang luas, Indonesia memiliki banyak tantangan dan peluang dalam mengelola konektivitas penerbangan, yang sangat penting untuk kemajuan ekonomi dan sosial.
Pentingnya Sektor Penerbangan Sipil bagi Indonesia
Duta Besar Indonesia untuk Kanada, Muhsin Syihab, menekankan bahwa sektor penerbangan sipil memegang peranan krusial dalam menjalin konektivitas Indonesia dengan dunia internasional. Hal ini disampaikan dalam sebuah acara diplomatik yang diadakan untuk merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Markas Besar ICAO, Montreal, pada tanggal 8 Oktober.
“Perkembangan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kemajuan sektor aviasi. Penerbangan sipil telah menjadi jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan negara lain serta menciptakan peluang yang lebih luas,” ungkap Muhsin, yang juga menjabat sebagai Wakil Tetap RI di ICAO, dalam pernyataan tertulis yang dirilis pada tanggal 10 Oktober.
Peran Strategis Penerbangan
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F Laisa, juga menegaskan betapa pentingnya penerbangan sipil sebagai salah satu pilar strategis bagi Indonesia. Mengingat bahwa negara ini terdiri dari sekitar 17.000 pulau dan dihuni oleh hampir 280 juta penduduk, konektivitas udara menjadi sangat vital.
“Sebagai negara kepulauan, Indonesia memandang penerbangan sipil bukan hanya sebagai sektor industri, tetapi sebagai bagian integral dari kehidupan yang menghubungkan berbagai komunitas di seluruh nusantara,” tambah Lukman.
Kontribusi Indonesia di Tingkat Internasional
Presiden Dewan ICAO, Toshiyuki Onuma, memberikan penghargaan atas kontribusi Indonesia dalam meningkatkan kapasitas penerbangan di negara-negara berkembang. Ia mencatat rekam jejak Indonesia dalam mendukung pelatihan serta memajukan standar keselamatan penerbangan internasional.
“Sejak bergabung sebagai anggota ICAO pada tahun 1950, Indonesia telah berbagi keahlian dengan lebih dari 60 negara melalui program Indonesia Developing Countries Training Program (DCTP). Negara ini secara konsisten menunjukkan standar keselamatan dan keamanan yang melebihi rata-rata global, yang mencerminkan komitmennya untuk memenuhi standar tertinggi,” jelas Onuma.
Sejarah Keanggotaan Indonesia di ICAO
ICAO didirikan pada tahun 1947 dengan tujuan mengatur penerbangan sipil internasional. Indonesia sendiri pernah menjabat sebagai anggota Dewan ICAO dari tahun 1962 hingga 2002. Selama periode tersebut, Indonesia aktif berpartisipasi dalam berbagai inisiatif dan program yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi penerbangan di seluruh dunia.
Sejak tahun 2012, Indonesia telah membuka Kantor Kepentingan Indonesia di ICAO yang berlokasi di Montreal. Kantor ini berfungsi untuk memperkuat kerja sama dan mendukung partisipasi aktif Indonesia dalam berbagai pertemuan yang berlangsung di Markas Besar ICAO.
Komitmen Indonesia untuk Negara Berkembang
Dalam satu dekade terakhir, Indonesia telah berperan aktif dalam membantu negara-negara berkembang melalui berbagai program pelatihan dan berbagi keahlian. Tidak hanya itu, Indonesia juga memberikan dukungan finansial untuk meningkatkan kapasitas penerbangan di negara-negara yang menerima bantuan.
Kegiatan tersebut terlaksana berkat kerja sama antara KBRI Ottawa, KKIP ICAO Montreal, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Luar Negeri, dengan dukungan dari AirNav Indonesia. Acara tersebut juga dimeriahkan dengan penampilan gamelan Bali dari kelompok Giri Kedaton Montreal serta menyajikan hidangan khas Indonesia yang mendapat sambutan positif dari para tamu undangan.
Langkah ke Depan
Dengan pencalonan sebagai anggota Dewan ICAO untuk periode 2026–2028, Indonesia berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam pengembangan penerbangan sipil yang lebih baik. Melalui keanggotaan ini, Indonesia berharap dapat memainkan peran yang lebih aktif dalam merumuskan kebijakan penerbangan internasional, serta meningkatkan kolaborasi dengan negara-negara lain.
Pentingnya konektivitas udara bagi Indonesia tidak bisa diabaikan. Sebagai negara dengan banyak pulau dan beragam budaya, penerbangan sipil adalah sarana vital untuk memperkuat hubungan antarwarga serta mendorong pertumbuhan ekonomi.
Kesimpulan
Pencalonan Indonesia sebagai anggota Dewan ICAO merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi negara ini dalam komunitas penerbangan global. Dengan pengalaman dan komitmen yang telah ditunjukkan selama ini, Indonesia siap untuk berkontribusi lebih besar dalam pengembangan sektor penerbangan sipil yang aman dan efisien.
➡️ Baca Juga: Jadwal dan Rincian Gaji ke-13 2026: Pencairan Juni untuk ASN dan Pensiunan
➡️ Baca Juga: Pembebasan Lahan Tol Getaci di Nagreg Masih Tertunda, Penetapan Lokasi dan Perencanaan Baru Disusun



