Industri RI Terus Melaju Meski IKI Hanya di 51,93 dan Produksi Melambat

Jakarta – Kinerja industri manufaktur Indonesia pada bulan September 2026 tetap menunjukkan fase ekspansi meskipun dalam konteks tantangan perekonomian global dan domestik yang dinamis. Hal ini terlihat dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang tercatat di angka 51,93, meskipun mengalami penurunan sebesar 0,37 poin dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 52,30.
Peningkatan Permintaan Baru Menjadi Penopang Utama
Febri Hendri Antoni Arif, Juru Bicara Kementerian Perindustrian, menyatakan bahwa kinerja industri pada bulan ini didorong oleh peningkatan permintaan baru di pasar. Meskipun ada pelambatan dalam beberapa aspek, industri dalam negeri menunjukkan bahwa IKI masih berada di atas angka 50, yang menandakan adanya ekspansi.
“Meskipun kinerja industri pada September 2026 masih dalam fase ekspansi, kami mencatat adanya penurunan dalam variabel produksi serta penumpukan stok barang. Salah satu penyebabnya adalah tingginya biaya logistik untuk pengiriman produk baik ke pasar domestik maupun ekspor. Selain itu, pelaku industri juga masih bersikap ‘wait and see’ terhadap dinamika pasar yang ada, sehingga mereka cenderung menunda pengiriman barang dari gudang,” jelas Febri dalam siaran pers IKI di Jakarta, Rabu (30/9).
Dampak Perubahan Iklim dan Permintaan Produk Minuman
Selain tantangan logistik, perubahan iklim juga memberikan dampak signifikan terhadap industri. Kenaikan suhu yang terjadi menyebabkan lonjakan permintaan untuk produk minuman, yang berimbas pada peningkatan utilisasi di subsektor industri minuman. Hal ini menjadikan subsektor tersebut mencatatkan IKI tertinggi dibandingkan dengan 23 subsektor industri lainnya.
Mitigasi Dampak El Nino pada Sektor Industri
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita telah memberikan instruksi kepada jajarannya untuk melakukan mitigasi dampak El Nino terhadap berbagai aspek industri, termasuk bahan baku, energi, tenaga kerja, serta pengelolaan pergudangan dan pengiriman barang. Langkah ini diharapkan dapat menjaga kinerja ekosistem rantai pasok agar tidak terganggu.
Analisis Sub-sektor dan Kontribusi terhadap PDB
Berdasarkan analisis terhadap 23 subsektor, sebanyak 15 subsektor menunjukkan ekspansi dengan kontribusi mencapai 84,4 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada Triwulan II 2026. Dua subsektor yang mencatat IKI tertinggi adalah industri minuman dan industri alat angkutan lainnya.
- Industri minuman
- Industri alat angkutan lainnya
- Industri tekstil
- Industri makanan dan minuman
- Industri kimia
Kondisi Kontraksi di Beberapa Sub-sektor
Sementara itu, delapan subsektor lainnya mengalami kontraksi, di antaranya adalah industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki; industri kayu dan barang dari kayu; industri kertas dan produk yang terbuat dari kertas; serta beberapa subsektor lainnya seperti industri pencetakan, industri karet, serta industri mesin dan peralatan listrik.
Indeks Pesanan dan Produksi di Bulan September
Dari variabel yang membentuk IKI, indeks pesanan pada September 2026 mencapai 53,40, mengalami kenaikan sebesar 0,27 poin. Indeks produksi tercatat 53,78, yang meskipun masih dalam fase ekspansi, mengalami penurunan sebesar 1,32 poin. Sementara itu, indeks persediaan berada di level 45,45, menunjukkan kontraksi dengan penurunan 0,57 poin.
“Pesanan masih menunjukkan ekspansi dan bahkan meningkat. Ini berarti permintaan terhadap produk industri masih tetap ada. Namun, pelaku industri melakukan penyesuaian terhadap tingkat produksi dan persediaan yang ada,” imbuh Febri.
Analisis IKI Berdasarkan Orientasi Pasar
Dari perspektif orientasi pasar, IKI untuk industri yang berorientasi ekspor berada pada level 52,60, mengalami pelambatan sebesar 0,49 poin dibandingkan bulan Agustus yang tercatat di angka 53,09. Sedangkan untuk IKI yang berorientasi pasar domestik tercatat di angka 50,94, turun 0,19 poin dari 51,13. Meskipun demikian, kedua sektor tersebut masih menunjukkan tanda-tanda ekspansi.
Febri menegaskan bahwa kondisi ini menjadi bukti pentingnya menjaga keseimbangan antara pasar domestik dan ekspor, terutama di tengah berbagai tekanan seperti persaingan produk impor, kenaikan biaya produksi, serta dinamika dalam perdagangan global.
Sektor Alat Angkutan Menjadi Penopang Ekspansi
Sekretaris Ditjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE), Feby Setyo Hariyono, menyampaikan bahwa subsektor industri alat angkutan lainnya (KBLI 30) menjadi penyumbang terbesar kedua dalam ekspansi, dengan tingkat pesanan dan produksi yang menunjukkan pertumbuhan positif.
Salah satu faktor pendorongnya adalah industri sepeda motor. Selama periode Januari hingga Agustus 2026, penjualan domestik sepeda motor mencapai 4,36 juta unit, meningkat 2,16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ekspor sepeda motor CBU juga mengalami lonjakan sebesar 18,19 persen, sementara ekspor komponen meningkat 28,87 persen.
Tantangan di Sektor Agro
Di sisi lain, Sekretaris Ditjen Industri Agro Yulia Astuti menyampaikan bahwa beberapa subsektor dalam industri agro masih menunjukkan tanda-tanda ekspansi, meskipun ada tiga kelompok industri yang mengalami kontraksi akibat faktor cuaca dan perubahan iklim global.
Secara keseluruhan, meskipun tantangan yang dihadapi cukup beragam, industri RI tetap menunjukkan ketahanan dan kemampuan beradaptasi dalam menghadapi dinamika yang ada. Dengan terus memfokuskan pada inovasi dan efisiensi, sektor industri diharapkan dapat terus berkontribusi positif terhadap perekonomian nasional.
➡️ Baca Juga: Semua Bandara Resmi Dibuka Setelah Status Aman dari Abu Vulkanik Dinyatakan
➡️ Baca Juga: Bata Siap Membangkitkan Kembali Brand di Indonesia Melalui Strategi Bisnis Inovatif




